SOLUSI SAKIT MAAG

Blog pengalaman sembuh sakit maag kronis | obat alami sakit maag | makanan sakit maag | cara sembuh sakit maag | pantangan sakit maag

http://solusi-sakit-maag.blogspot.com/2014/07/resensi-buku-rahasia-sembuh-sakit-maag.html

Surat Buat Ana Sahabatku

Surat Buat Sahabatku,

Ana yang kukasihi,

Ketika aku mendengar kamu ditahan, betapa kabar itu bagaikan halilintar menyambar ditelingaku. Hampir tak percaya ketika pertama kali ku mendengarnya, walau kejadian ini sudah sejak lama aku duga bakal terjadi, jika kamu tak hati-hati dalam mengelola hidupmu yang serampangan mengelola keuangan.

Ketika dulu hidupmu masih susah saja, menurutku gamblingmu sudah terlalu berani. Sepertinya kamu tak pernah peduli dengan apapun yang kamu lakukan, waktu itu. 

Apapun yang kamu mau beli, lalu kamu beli. Dengan harga kredit yang tinggi berlipat ganda kamu tak pernah peduli, asal kamu ingin beli, pasti akan kamu beli. Entah itu baju, mukena atau barang-barang lain yang menurutku tidak terlalu mendesak kamu butuhkan.

Kamu membeli setiap barang-barang hanya memenuhi nafsumu, bukan lagi suatu kebutuhan yang memang harus kamu adakan. Kamu hanya punya suatu patokan, berapapun hutangmu kelak menumpuk suamimu pasti akan membayarnya ! Itulah sebabnya !.

Kamu tak pernah memikirkannya, bagaimana dan darimana suamimu bisa mendapatkan uang berpuluh-puluh juta untuk menutup hutang-hutangmu.

Setiap kali aku menasehatimu, hatimu menjawab lewat tatapan matamu yang selalu kucoba telusuri :”Ah, peduli amat, kau kan tak pernah kusuruh ikut membayar hutang-hutangku bu Nien ?”. Ya sudah, aku langsung bungkam, tak ada lagi setitik keinginanpun untuk melanjutkan nasehatku padamu.

Lalu kamu mendesakku untuk mencari orang pintar, guna mengatasi kebingunganmu ditagih hutang sama banyak orang... Sedangkan kamu tahu aku tak pernah mengenal orang pintar kecuali para ilmuan. Karena desakanmu akhirnya aku luluh juga karena kasihan padamu.

Kuantar kamu ketempat kakak seniorku mengaji, dipesisir pantai kebumen, ketempat Mbah Giman, barangkali disana bisa mendapat pencerahan. Usianya masih tergolong muda, 40 an tahun, namun orang menyebutnya dengan panggilan “Mbah” karena kesepuhan ilmunya.

Beliau bukan dukun, namun karena sikapnya yang rendah hati, kebapakan, ramah dan pendalamannya tentang ke Tuhanan demikian kental, dikemudian hari banyak diantara kami dan orang-orang lain menemuinya untuk memohon nasehat spiritual. Itulah sosok beliau.

Sepertinya kamu sangat kecewa ketika bertemu pertama kali dengan kakak mengajiku itu. Penampilannya sama sekali tidak meyakinkan. Kulitnya yang sawo matang, kukunya yang item-item karena sedang bergelut dengan pupuk kandang yang belum sempat dibersihkannya, tutur bahasanya yang teramat lugu karena hanya lulusan SMP apalagi beliau orang yang sangat lugu dan apa adanya. Komplit sudah dugaanmu bahwa ia sosok orang desa bodoh yang tak ngerti soal ilmu batin atau trawangan, apalagi dirumahnya tak ada apapun benda yang mengisyaratkan bahwa beliau adalah kesepuhan yang patut diperhitungkan. 

Ana Sahabatku,

Ketika itu, kepada Mbah Giman kamu minta dibukakan auramu agar aliran rizkymu menjadi lancar bak air bah. Lalu Mbah Giman sudah bilang, itu tak perlu. Berdoa saja sama Allah secara istiqomah ( tekun ) itu jauh lebih baik. Bahkan aku lalu menambahkan :”Lha iyo, baca saja Surat Al Waqi’ah tiap malam kan sudah jaminan Allah bahwa risky kita akan dimudahkan”. Tapi kau tak pernah yaqin, kau lebih yaqin dari apa yang disampaikan oleh seseorang, daripada janji2 Allah dalam Al Qur’an. Ya Allah…

Saking ngototnya pergi ke Mbah Giman siang hari bolong, bahkan kita sempat bertengkar sebelum berangkat. 

Waktu itu sudah tengah hari. Suamimu sedang ditempat kerjaan, tak mungkin kamu mengganggunya untuk pamit mau pergi bersamaku ke Mbah Giman. Lagipula kamu belum masak untuk anak-anakmu.

Aku kan waktu itu ngomong :"Jangan sekarang, waktunya tidak nyandak. Besuk aja, kamu harus minta ijin atau pamit dulu ke suamimu, masaklah buat anak-anakmu jadi pulang sekolah mereka ada yang dimakan".
Tapi kamu tak menggubris usul baikku. Kau memang begitu super egois ! Berbuat dulu urusan belakang ! Itulah falsafahmu dari dulu.

Benar kan ? Ketika kita sampai ke Mbah Giman, beliau ngarit, mencari rumput untuk 7 kambing kesayangannya, pulangnya sore hari karena kalau mencari rumput hingga keluar kota, dan tak mau diganggu he he ! Ketika beliau pulang kita hanya sempat berbincang sebentar, itupun beliau tak mau membuka auramu kan ? karena hari kita sowan kamu telah melakukan dosa sebelumnya ( Mbah Giman tahu ). Kamu tak berbakti kepada suamimu dan kamu menelantarkan anak-anakmu, kelaparan !

Pulang dari sana terjadi masalah besar. Suamimu pulang sampai kerumah lebih dahulu daripada kita. Bukankah kita sampai dirumah sudah melewati maghrib ? 

Dirumah, tak ada satupun anak-anakmu yang tahu kemana ibunya pergi. Lagipula dirumah tak ada air masak dan makanan, boro-boro teh hangat untuk suami ! Suami mana yang tak menjadi berang, apalagi suamimu yang memang temperamennya panas, dikit-dikit marah, aku bisa maklum. Hal seperti inilah yang kukhawatirkan bakal terjadi tadi sebelum kita berangkat. Nah benar kan ?

Belum lama berselang kita berpisah, kamu sudah datang lagi kerumahku sambil menangis. Kamu bilang suamimu marah besar, kamu disuruhnya belanja bahan masakan dan suruh masak saat itu juga. Nah loo..

Saat kesempatan belanja itu pula kamu mampir kerumahku dan memintaku dengan sangat agar aku meminta maaf kepada suamimu seolah-olah akulah yang salah telah mengajakmu ke Mbah Giman sehingga keluargamu menjadi terlantar tak terurus makannya. Padahal bukankah kamu yang mengotot mengajakku kerumah Mbah Giman ?

Astaghfirullah…aku pantang berbuat dan berkata tidak jujur. Tapi kalau aku mengatakan yang sejujurnya, pasti kamu akan dimarahi habis-habisan oleh suamimu. 

Alhamdulillah suamiku adalah orang yang sangat penyabar dan baik hati. Sehingga mengijinkanku untuk menolongmu agar kamu selamat dihadapan suamimu, selamat dari kemarahannya.

Tanpa banyak bicara akhirnya kulangkahkan kakiku dengan sangat berat menuju kerumahmu untuk menemui suamimu, untuk mengakui kesalahan yang tak pernah kulakukan, demi menyelamatkan dirimu dari kemarahan suamimu. 

Tuhan, ampunilah kebodohanku ini…

Singkat kata, kulakukan permintaanmu. Aku meminta maaf kepada suamimu untuk kesalahan yang tak pernah kulakukan ! Lalu, tanpa basa-basi dimakinya aku habis-habisan, katanya aku orang tua yang tidak urus, tidak tahu etika dan segala sumpah serapah yang sangat menyakitkan didengar telinga. 

Dalam hati, saat aku menerima perlakuan yang tidak adil dari suamimu itu ( dan ini karena ulahmu yang tidak jantan untuk mengakui kesalahan dihadapan suamimu ) aku hanya bisa berdoa dalam hati :”Ya Allah, yang hak adalah hak, dan yang batil adalah batil, semuanya aku pasrahkan kepada keadilanMu yang Maha Tinggi Ya Allah”.

Aku sudah memaafkan kekerdilan hatimu waktu itu yang tak berani mengakui kesalahanmu dengan jantan, dalam kondisi kepepet kau selalu mengumpankan siapapun termasuk sahabatmu sendiri, dan itu kamu tega ! 

Aku memang sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf, tapi setiap ingat peristiwa itu kenapa ya luka dihatiku masih terasa pedih karenanya ? 

Bukan hanya untuk itu, kamu menyakiti hatiku. Masih banyak hal lain yang sering kamu lakukan padaku dan sangat menyakitkanku, akupun tidak tahu apakah kamu menyadarinya atau tidak? 

Hal itu bukan hanya kamu lakukan padaku tapi kepada banyak orang, sikap masa bodoh dan tak peduli pada hak-hak orang lain, bahkan kepada suamimu dan anak-anakmu semua..

Kini kau sedang dalam penahanan fihak yang berwajib, menurut ibumu, kau diminta pertanggungjawaban atas nota milyaran rupiah dari perusahaan dimana suamimu dulu bekerja, yang kemudian kau lanjutkan setelah suamimu meninggal karena sakit jantung.

Dan konon yang bertanggung jawab adalah kamu karena ini terjadi setelah suamimu meninggal, setelah nota-nota tagihan perusahaan itu menjadi tanggungjawabmu. 

Kemana uang sebanyak itu sahabatku ? Karena selama ini, kau tak pernah menyinggung putaran usahamu kepadaku.Ya Allah…

Aku hanya sering menyaksikan bahwa pengeluaranmu memang terlalu boros, seolah engkau keluarkan uang tanpa mikir. Itulah yang membuat tanda tanya di hatiku sekaligus menimbulkan rasa was-was yang tak jelas atas akibat dari keborosanmu ini, dikelak kemudian hari.

Dari dulupun sejak awal kita berkenalan, kamu ketemu aku kondisiku sudah miskin. Dan ketika kau menjadi kaya dengan hartamu yang ratusan juta rupiah, rumah bagus dan mobil mewahpun, tak menjadikan kehidupanku berubah menjadi kaya sepertimu he he..

Aku tetaplah aku dengan kemiskinanku, dan kau yang sudah kaya menjadi semakin kaya. Meskipun begitu, Alhamdulillah persahabatan kita tak pernah terganggu, jalan terus.

Dan jika kuperhatikan, dalam membelanjakan hartamu, kau seperti membabi buta. Program2mu tak pernah matang.

Kau membeli alat-alat spa, namun alat-alatnya itu hanya kau onggokkan saja sehingga menjadi besi tua, kau beli rumah mewah hanya kau keluarkan voorskot tapi tidak kau tuntaskan pembeliannya sehingga uang muka puluhan juta itu menguap begitu saja. 

Sayang, perencanaanmu atas segala hal tak pernah matang, selalu saja masih mentah sudah kau laksanakan, sehingga ditengah jalan belum sampai finish sudah berantakan. Itulah kamu Ana. Hanya membuang-mbuang uang, sementara diluar masih banyak orang menangis kepada Allah memohon dimudahkan jalan rizkynya.

Jika persahabatan kita tetaplah langgeng, karena aku berusaha mengalah kepadamu, bersabar kepadamu, seperti induk mengemong anaknya. Itulah tipe persahabatan diantara kita. Aku berusaha memegang etika persahabatan. Aku tak pernah sama sekali menyinggung penghasilanmu yang puluhan bahkan ratusan juta rupiah tiap bulan itu berasal dari mana? Itu adalah privacemu, dan aku tak pernah mengusiknya barang sedikitpun.

Dan aku memang orang yang tidak “blereng” atau “takjub” dengan gelimang harta. Aku sudah merasa senang, bisa numpang mobil nyaman karena sering kau ajak kemana kau pergi. Sederhana kan ? Aku cukup alhamdulillah kamu ajak direstoran makan enak, yang tak pernah terkjangkau oleh kocekku.

Aku sudah sangat bersyukur dengan karunia yang Allah limpahkan padaku.Rumah tanggaku Alhamdulillah damai walau tidak sejahtera. Rukun dan bahagia karena aku dengan suamiku tak pernah bertengkar. Putriku satu-satunya sudah melewati ujian akhir SMAnya dengan selamat, Alhamdulillah rajin ngaji dan rajin sholat. Ia anak yang cerdas, sopan dan lemah lembut sehingga orang banyak bertanya bagaimana cara aku mendidiknya?

Aku sudah sembuh dari ujian sakit maag yang lebih dari 15 tahun kuderita. Kurang Apalagi? Rejeki sudah diatur oleh Allah SWT. Kita tak perlu ngoyo. Saklantrahe waelah ( orang Jawa bilang begitu ). Yang penting tiap hari kita bisa menjalankan ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada kita dengan baik , lalu kita berusaha menjauhi apa yang menjadi laranganNya, itu sudah sangat bagus jika kita bisa menjalaninya dengan tekun penuh keikhlasan.

Mohon maaf banget jika aku belum menjengukmu didalam tahananmu. Kita pasti akan sama sama menangis dalam pelukan kerinduan yang penuh makna.

Kau menangisi keterpurukanmu yang sudah terlambat kau sesali. Dan aku menangis karena bersyukur, selama ini aku diberi anugerah bisa bersabar dalam penderitaan dan tetap bersyukur dalam setiap kondisi yang bagaimanapun, menahan sabar dalam kemiskinanku. 

Ini adalah impian yang berbeda dengan akhir yang berbeda pula. 

Kau dengan impianmu yang menjulang kelangit tinggi dengan gemerlap kemewahan yang selalu kau harapkan, sedangkan aku dengan impianku yang cukup sederhana : adalah keselamatan dunia akherat bagi keluargaku sampai ke anak cucuku hingga tak terbatas waktu.

Aku sudah sangat bersyukur jika melihat putriku kembali dari sekolah dengan selamat, tanpa ada persoalan di sekolahnya. Soal aku belum bisa melunasi uang sekolahnya, bagiku itu bukanlah dosa karena sudah kuusahakan namun Allah masih mengujiku dengan harus bersabar.

Aku sudah sangat bersyukur bila ada temanku yang main kerumah aku bisa menyuguhinya makan dengan nasi hangat, sayur asem, dan tempe goreng tanpa lauk lain.

Ribuan syukur yang tak mampu aku lantunkan ke Hadlirat Allah setiap saat dari nikmat dan karuniaNya yang Ia taburkan dalam kehidupanku. 

Alhamdulillah, siapapun yang masuk bertamu kerumahku selalu komentar :”Kok dingin ya disini, dan aku pasti selalu ngantuk kalau duduk dirumah bu Nien ini termasuk kamu kan ? selalu ngantuk dan tidur di kursi panjang merah warisan dari ibuku almarhum yang sangat kukasihi”

Subhanallah, itulah keajaiban barokah. Itulah keajaiban rasa syukur yang mengalir tiap-tiap saat tanpa henti. Aku dan keluargaku sangat bersyukur bila dalam keseharian kami tak menciderai hubungan kami dengan Allah SWT sehingga membuatNya murka.

Ana yang kukasihi,

Hidup adalah pilihan dengan segala konsekuensinya. Setiap orang telah memilih jalan masing-masing dengan konsekuensi masing-masing pula, termasuk kita, aku dan kamu.

Apapun pilihan kita, kita harus bertanggungjawab dengan konsekuensi yang harus kita pikul. Betapapun beratnya beban konsekuensi yang harus kita pikul, masih ada Allah Yang Maha Segalanya.

Allah yang Maha Mengampuni, Allah yang selalu memberi keajaiban, Allah yang selalu memberi jalan dan mengulurkan pertolonganNya..Allah yang selalu menghangati kisi-kisi hati kita disaat kita sedang berduka.

La Tahzan !

Jangan bersedih sahabatku. Mudah-mudahan, masa tahananmu diringankan olehNya, mudah-mudahan dibalik jeruji besi kau lebih bisa menelusuri dirimu, untuk lebih bersimpuh diharibaan Allah SWT. Menemukan segala kekurangan diri dan menemukan segala kebesaran Sang Khalik. Memohon ampunan dan mengharapkan segala RahmatNya.

Aku dan semua kami, keluargamu,saudara-saudaramu, anak-anakmu, sahabat-sahabatmu, teman-temanmu, dan tetangga kita semuanya, insya Allah akan senantiasa mendoakanmu, memohonkan kesehatan bagimu, memohonkan keselamatan, kekuatan, kesabaran untukmu agar bisa menjalani hukumanmu dengan jiwa besar, dengan keikhlasan yang penuh ketulusan, dengan keinsyafan atas segala khilaf, dan kembali kealam bebas menjadi manusia baru yang sudah terbebas dari segala keburukan. 

Semoga Allah ijabah semua do’a-do’a kita yang baik. Amin Ya Robbal Alamin.
Peluk cium dan sayangku selalu untukmu.

La Tahzan !
Renungan Seorang Sahabat : NiniekSS
Labels: Kisah Menarik

Thanks for reading Surat Buat Ana Sahabatku. Please share...!

0 Komentar untuk "Surat Buat Ana Sahabatku"

Back To Top