SOLUSI SAKIT MAAG

Blog pengalaman sembuh sakit maag kronis | obat alami sakit maag | makanan sakit maag | cara sembuh sakit maag | pantangan sakit maag

http://solusi-sakit-maag.blogspot.com/2014/07/resensi-buku-rahasia-sembuh-sakit-maag.html

Rasa Tertekan Bisa Memicu Sakit Maag

Bismillahirrahmanirrahiim,

Sahabat Niniek SS yang setia, jumpa kembali dalam topik yang baru ternyata Rasa Tertekan Bisa Memicu Sakit Maag.

Menyimpan rasa tertekan dalam dada memang tidak enak. Baik tertekan kepada orang tua, suami, isteri, saudara, tetangga, ataupun orang lain yang tak berkenan dihati kita.

Kita maunya, semua orang mbok sejalan, sepemikiran, sependapat dengan apa mau kita. Nah, orang lain juga begitu. Maunya, kita semua mbok sejalan, sepemikiran dan sependapat dengan apa maunya ?

Nah kalau dua kubu ini tak ada yang mau ngalah, akhirnya masing-masing tetap bersikukuh dengan apa mau masing-masing. Lebih celaka lagi, seringkali apa yang membuat kita tertekan, subyeknya tak mengetahui bahwa dirinya membuat kita tertekan.

Misal saja ada sepasang suami isteri nih. Suami A dan isteri B. Si B sebagai seorang istri sudah sangat lama memendam kedongkolan kepada suaminya yang sama sekali tak mau membantu pekerjaan rumah tangganya. Asal pulang kantor, mandi, makan, minum, baca Koran, nonton TV, lalu tidur, pake ngorok keras lagi. Seolah-olah didunia ini tak ada satu masalahpun yang perlu dipikirkan baginya.

Betapa sedihnya isterinya. Betapa lelahnya ia mengurus pekerjaan rumah, dari mulai pagi buta hingga malam hari kerjaan rumah tangga tak ada hentinya. Tak ada pembantu dirumahnya, karena gaji suaminya tak mencukupi untuk menggaji pembantu.

Anak-anaknya juga tak ada yang mau membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mencuci piring, boro-boro mencuci bajunya sendiri.

Anak-anak waktunya sudah habis untuk sekolah, mengerjakan PR, mengerjakan tugas Ekstra Kulikuler, less, dan segala macam kegiatan yang menurut pengamatannya sekarang ini, anak-anak kok selalu dijejali dengan tugas sekolah yang berjubel sehingga hampir tak sempat mengerjakan tugas rumah tangga apapun.

Malam hari ketika anak-anak sudah tidur, ia masih repot menyelesaikan pekerjaan yang sedari siang dikerjakannya belum selesai-selesai juga. Mulai dari pagi-pagi menyapu lantai, membersihkan kamar anak-anak yang selalu berantakan, mencuci, belanja untuk hari-hari, lalu memasak untuk sekeluarga.

Baru selesai masak anak-anak sudah datang, dan sekeluarga mereka makan bersama-sama. Selesai makan cucian piring sudah menumpuk lagi, menunggu untuk dicuci. 

Ia tak tega rasanya untuk menyuruh anak-anak membantu pekerjaan rumah tangga. Ini memang pendidikan yang kurang baik bagi anak-anaknya. Yang bisa mebuat kelak mereka akan menjadi canggung untuk mengurus diri sendiri.

Tetapi bagaimana lagi ia sebagai ibu memang benar-benar tidak tega mengusik anak-anaknya. Pulang dari sekolah saja dilihatnya mereka sudah kelelahan belum lagi jika masih harus mengerjakan PRnya untuk besuk pagi. Ya Allah..

Malam ketika tidur, masih harus memikirkan beban hutang yang belum lunas-lunas juga padahal sudah waktunya harus lunas. Beban pikirannya berkecamuk dalam dirinya tak ada yang pernah tahu. Suami tidak anak-anakpun tidak.

Keadaan ini berlangsung hingga bertahun-tahun. Hingga anak-anaknya besarpun terbiasa tidak tahu membantu pekerjaan rumah tangga.

Lama-lama ia terkena sakit maag. Dan tak sembuh-sembuh, karena faktor penyebab yang utama belum terpecahkan. Ia merasa menjadi budak dalam rumah tangganya. Merasa dieksploitir oleh suaminya. Sepertinya suaminya enak sekali. Tinggal setor uang setiap gajian dan seluruh tanggungjawab dari urusan a sampai ke urusan z menjadi tanggungjawabnya.

Nah kasus seperti ini banyak penulis temui dari para Sahabat Sakit Maag yang menghubungi penulis untuk konsultasi sakitnya.

Tidak hanya para isteri saja namun juga banyak dari kaum Bapak-Bapak yang mempunyai problem yang sama dengan ibu tersebut. Jika dari kaum isteri mengeluhkan perlakuan suami yang otoriter dalam rumah tangganya. Maka dari fihak bapak-bapak yang pada sakit maag problem utamanya adalah gaji kecil, isterinya banyak keinginan dan tak bisa mengatur keuangan, ngeyel dan tak berbakti kepada suaminya. 

Tapi problem dari bapak-bapak yang paling banyak penulis temui adalah, kecilnya penghasilan yang tidak bisa menutup biaya hidup, apalagi dengan isteri yang banyak tuntutan, tentu hal ini cukup memusingkan otak ! belum lagi mikirkan soal masalah-masalah yang ada dikantor, tambah pusing rasanya.

Apapun masalah yang dihadapi oleh para isteri maupun suami, dan  siapapun orangnya, intinya adalah mereka semua ingin apa kehendaknya kesampaian. Ingin hidup ini tak ada masalah, enjoy-enjoy saja.

Ya tak mungkin dong ! Sampai kita menjelang ajalpun akan selalu ada masalah dalam hari-hari kita, yang harus kita selesaikan. Karena itu adalah bagian ujian hidup untuk mengasah kedewasaan ruhani kita. Untuk mengasah ketaqwaan kita, untuk mengangkat derajat kita agar menjadi manusia yang ikhlas dan pandai bersyukur. Dalam keadaan apapun ! Ya dalam keadaan apapun !

Oleh karena itu menurut penulis, perlu adanya keterbukaan, agar ada titik temu, agar masalah bisa diselesaikan dengan baik, sehingga tidak menjadi sesuatu yang menekan batin atau pikiran dalam kurun waktu yang lama.

Tanpa ada keterbukaan antara kedua belah fihak tentu tidak akan terjadi penyelesaian problematika apapun. Jika isteri sumpeg atas perlakuan suami, ya kemukakan apa yang yang isteri inginkan kepada suami dengan penyampaian yang baik dan memilih waktu yang baik.

Sebelum menyampaikan uneg-unegnya tentu isteri harus lebih dahulu memahami jika dirinya ada diposisi suaminya. Yang pergi pagi pulang petang demi mencari makan dan penghidupan untuk keluarganya. Isteri juga harus mencoba memahami segala problematika suami diluar rumah ketika menghadapi pekerjaannya.

Bagaimana suami dengan atasannya, dengan mitra kerjaannya, suami dengan pekerjaannya sendiri. Tentu semua kita mempunyai problem yang kita hadapi dalam dunia yang kita geluti masing-masing.

Ini yang seringkali banyak isteri-isteri yang tak mau tahu atas segala problem yang sedang dihadapi oleh suami diluar rumah.

Tentu isteri memang tidak tahu dengan problem yang dihadapi suami diluar rumah. Nah bagaimana caranya dong ? Ketika suami pulang kerumah dari pekerjaannya, pada saat santai isteri bisa menanyakan bagaimana kabar kantornya. Apakah semua baik-baik saja, apakah pekerjaan suaminya lancar-lancar saja ? Apakah tak ada masalah dikantor suaminya ?

Suami yang baik tentu akan senang atas perhatian dari isterinya. Nah pada saat seperti ini kemungkinan besar suami selanjutnya akan bertanya balik kepada isterinya tentang bagaimana keadaan dirumah seharian, dengan semua anak-anaknya, dan segala yang terjadi seharian dirumah.

Pada saat seperti inilah isteri bisa menyampaikan segala uneg-unegnya kepada suaminya. Jika ada komunikasi, jika ada keterbukaan antara kedua belah pihak, insya Allah tak akan ada lagi sesuatu yang menekan perasaan, atau mengganjal dalam hati.

Sesuatu yang mengganjal dalam hati, yang menekan perasaan, jika ditahan berlama-lama akan mengundang energi yang negatif dalam diri kita.

Sedangkan menurut pengamatan serta penelitian yang kemudian dilanjutkan dengan pembuktian, Dokter Hiromi Sinya ahli usus terkemuka didunia dari Jepang yang selama masa tugasnya lebih dari 40 tahun membedah lebih dari 300.000 usus manusia, menuturkan bahwa pikiran yang positif akan mendatangkan kebahagiaan, dan kebahagiaan bisa membangun banyak enzyme yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.

Sedangkan menurutnya pula, bahwa berlangsungnya kehidupan manusia, tergantung banyak sedikitnya enzyme yang dimilikinya. Makin banyak enzyme yang ada dalam tubuh seseorang, maka akan semakin sehatlah orang itu. Dan sebaliknya, makin sedikit enzyme dalam tubuh seseorang maka akan semakin tidak baik kondisi kesehatannya.

Nah, dengan demikian secara gamblang bisa kita tarik kesimpulan, orang yang selalu tertekan perasaannya, yang selalu sedih, yang selalu negatif thinking atau buruk pikirannya, juga sangat mempengaruhi kesehatannya secara lahir maupun batin.

Karena jiwa yang sedih, yang tertekan, justru akan menguras enzyme yang ada dalam tubuh sehingga mengakibatkan tubuh menjadi tidak sehat, berkurang daya tahan tubuhnya, menjadi gampang terserang berbagai macam penyakit, salah satunya adalah sakit lambung, atau sakit maag ?

Mengapa ? Orang yang tertekan, yang selalu merana, sedih, berpikir negatif cenderung akan kehilangan selera makan. Jika demikian halnya, tentu saja gampang sekali terkena sakit maag.

Untuk menghindari rasa tertekan, kecuali sebuah keterbukaan, perlu belajar memaafkan, menerima setiap keadaan dengan rasa ikhlas. Mensyukuri apapun yang ada didepan kita, karena betapapun buruknya keadaan, selalu ada hikmah yang Allah hadirkan untuk diri kita agar kita pelajari.

Akankah kita menyia-nyiakan pembelajaran dari Allah yang sangat indah dan mahal harganya ini ? Allah SWT. mempunyai caraNya untuk kita masing-masing agar menjadi insan yang tunduk dan taat serta berbakti kepadaNya melampaui segala apapun yang ada didunia ini. Itulah kehendakNya yang utama atas kita.
Demikian artikel tentang Rasa Tertekan Bisa Memicu Sakit Maag, semoga manfaat deh buat kita sekalian.

Apapun keluhan Anda akibat sakit maag, tak usah berkecil hati, karena alhamdulillah, kini telah hadir Buku Panduan Kesembuhan Sakit Maag, yang telah membantu banyak penderita sakit maag di seluruh Indonesia, sembuh dari sakitnya. PESAN DAN MILIKILAH SEGERA ! sebelum kehabisan, karena peminat banyak sekali.

Alhamdulillahirrabil’alamiin.

Salam Semangat Selalu !
Niniek SS
Labels: Kiat-Kiat Sembuh, Pengetahuan, Renungan

Thanks for reading Rasa Tertekan Bisa Memicu Sakit Maag. Please share...!

0 Komentar untuk "Rasa Tertekan Bisa Memicu Sakit Maag"

Back To Top