SOLUSI SAKIT MAAG

Blog pengalaman sembuh sakit maag kronis | obat alami sakit maag | makanan sakit maag | cara sembuh sakit maag | pantangan sakit maag

http://solusi-sakit-maag.blogspot.com/2014/07/resensi-buku-rahasia-sembuh-sakit-maag.html

Petaka Bepergian Tak Membawa Bekal

Jika kita sakit maag hendak bepergian sebaiknya membawa bekal. Karena belum tentu dalam perjalanan ketemu makanan yang cocog. Yang penting nasi lembek, adapun lauknya tak menjadi masalah asal tawar dan lunak.

Sebenarnya mudah mengelola sakit maag, asal ada makanan yang cocog disaat lapar, otak bisa istirahat dan hati bisa selalu bahagia.

Suatu hari tiba-tiba aku rindu sekali pada seorang sahabatku, sebut saja namanya mbak Tutik. Rumahnya cukup jauh. Sekitar 1 jam perjalanan naik bis antarkota, lalu sambung angkutan pedesaan selama setengah jam. Dan masih harus jalan kaki lewat jalan setapak setengah jam pula.

Maklum aku belum punya mobil sendiri, punyanya sepeda onthel sudah karatan lagi, pokoknya sepeda paling bulukan yang pernah kukenal he he. Pencuripun enggan mencurinya karena tak bakal laku untuk dijual.

Itupun sangat Alhamdulillah karena dengan sepeda ini, putriku satu-satunya, dulu ketika sekolah SD, selama 6 tahun tak perlu keluar ongkos. Dengan sepeda ini, ia diantar suamiku ke sekolah. 

Pergi diantar, pulangnya dijemput, belum jika ada kegiatan pramuka sore harinya. Bisa dibayangkan. Satu hari suamiku bisa bolak balik antar jemput putriku sejauh 42 kilometer. Karena jarak rumah ke sekolah sekitar 7 kilometer. Menerobos panas dan hujan demi masa depan putriku.

Ah…masa lalu yang mencengangkan jika dikenang…Semua hanya karena Rahmat dan Kebesaran Allah semata. Kok kuat ya ? Pake sepeda onthel reyot lho ! yang jika berjalan bunyi kreyooot…kreyooot…kini putriku Alhamdulillah sudah di jenjang perguruan tinggi…subhanallah…

Sebelum berangkat aku sholat dhuha terlebih dahulu…Ada sesuatu yang hilang rasanya jika pagi bepergian belum sholat dhuha, seperti jika pergi belum salim kepada orang tua.

Aku kena sakit maag sudah lama banget bertahun-tahun, tapi sejak terapy minum air mentah atas anjuran Pak Kyai Zakaria di Purworejo, Alhamdulillah sudah banyak perubahan, meskipun belum sembuh. Sehingga aku sudah bisa bepergian, bahkan keluar kota, asal tidak terlalu jauh, seperti kerumah mbak Tutik yang nanti akan kutemui.

Sesampai dirumahnya, bukan main senangnya mbak Tutik ketika kami datang. Aku, suamiku dan putriku. Karena memang sudah lama sekali kami tak pernah bertemu.

Sudah menjadi kebiasaan mbak Tutik, jika kami kerumahnya selalu heboh dia menyambut kami. Buru-buru dia pergi kedapur untuk masak nasi, setelah sebelumnya menghidangkan minum teh hangat beserta kue-kue seadanya.

Suamiku ngobrol diruang tamu dengan mas Gimin suami mbak Tutik. Sedang aku menemani mbak Tutik yang masak didapur.

Aku masih ingat banget. Waktu itu mbak Tutik memasak telor rebus disambal lado. Tapi bumbunya merah meriah penuh cabe merah. Sangat menggiurkan bagi yang tidak sakit maag. Untung mbak Tutik menggoreng juga tempe. Karena aku tidak makan pedas. Ada juga sayur lodeh terong dan ongseng kacang panjang. Waduh kok semuanya pedas-pedas ?

Jam menunjukkan jam 2 siang, ketika mbak Tutik selesai masak. Kami semua sudah sholat dhuhur. Tibalah saat makan siang. Semua mengambil apa yang disuka.

Tiba giliranku, sedih banget rasanya. Aku hampir menangis. Nasinya ternyata sangat keras. Dan mbak Tutikpun menggorengnya tempe sampai kering betul.
“Kenapa mbak Nien melamun? Ayo makan…jangan sungkan-sungkan” katanya, sambil ia mencidukkan nasi dipiringku. Banyak banget. Aduh, gimana ini ? aku bingung.

“Aduuh, sangat kebanyakan ini mbak” protesku.
“Halah segitu kok banyak? Gak papa sekali-kali makan yang banyak biar sehat !” Katanya menimpali. Sambil diambilkannya telor balado dengan sambalnya yang merah nglaput, lodeh terong dan lengkap dengan tempe gorengnya.

Aku terkesima melihatnya. Ini buah simalakama bagiku. Tidak dimakan perutku sudah meronta-ronta karena lapar. Tapi mau dimakan nasinya keras, dan sayur serta lauknya pedas banget. Ya Allah..ampuni hamba yang tidak mensyukuri nikmatMu.

Akhirnya kumakan juga sesuap demi sesuap. Lamaa sekali, karena aku harus mengunyah dengan ekstra agar lembut ketika kutelan.

Sebelum kumakan kuambil dulu telurnya lalu kucuci. Sayur lodeh yang terlanjur ditumpahkan ke nasiku kuberikan pada putriku, lalu tempe gorengnya kuberikan kepada suamiku, karena tak mungkin aku nekad memakannya.

Aku tak berani menghabiskan nasinya karena terlalu keras ! apalagi sudah terkena sambal balado dan pedasnya kuah lodeh terong. Ya apaboleh buat, resiko menanti apa yang akan terjadi.

Saat berada dirumah mbak Tutik tak terjadi sesuatupun. Namun setelah sampai dirumah, beberapa jam setelah sampai dirumah, terjadilah petaka itu.

Perutku kejang, sakitnya bukan main, keringat dingin keluar disekujur tubuh. Kami sangat bingung, apa yang harus dilakukan.Ya Allah…untuk kedokter tak punya uang yang cukup, tidak diperiksakan kok begini sakitnya. Jan sakit sekali, hingga hampir hilang keseimbangan.

Tiba-tiba aku punya ide untuk minum air putih hangat sebanyak banyaknya, lalu memuntahkannya.

Alhamdulillah semua isi perut bisa kumuntahkan keluar. Lalu aku minum air mentah seperti biasa 1 gelas besar, namun sedikit demi sedikit. Dan kupaksakan makan nasi lembek yang ada dirumah dengan telor ayam kampung yang direbus setengah matang.

Meskipun rasa tubuh tidak karuan, namun aku harus makan, karena isi perut baru kutumpahkan semuanya. Setelah itu seluruh perut kuolesi dengan minyak kayu putih cukup banyak. Juga seluruh punggung. Lalu aku tidur dengan bantal cukup tinggi, untuk menghindari asam lambung naik, karena baru saja makan dan minum banyak.

Aku sudah pasrah karena tak bisa berobat kedokter karena tak punya uang yang cukup untuk berobat. Aku berserah diri dan berharap akan keajaiban pertolongan Allah. Sambil kesakitan kubaca istighfar dan shalawat sepanjang nafas.

Putriku yang ketika itu masih kecil sangat cemas, menungguiku duduk disisi tempat tidur disampingku sambil mengelus-elus kakiku :”Sembuh ya Mi..sabar ya Mi…” begitu doa tulusnya mengalir dari mulut kecilnya. Mataku berkaca-kaca menyaksikan ketulusannya.

Suamiku tak kalah bingungnya tapi tak punya inisiatif. Aku memakluminya. Pelan namun pasti, subhanallah…perutku berangsur sembuh. Sudah tak kejang lagi dan makin lama makin hilang rasa sakitnya. Hingga aku terlelap tanpa kusadari, tahu-tahu putriku sudah tidur disebelahku.

Setelah perutku sama sekali tak terasa sakit, aku pelahan mencoba bangun, ambil wudhlu lalu sujud syukur. Air mataku meleleh tak terbendung. Ya Allah begitu ajaib Engkau menyembuhkanku, dengan kesabaran, kepasrahan, istighfar dan sholawat, ternyata bisa menjadi jalan kesembuhan. Allah Hu Akbar.

Ini adalah salah satu pengalaman sakitku dulu. Jika Sahabat sedang hendak bepergian, jangan lupa bawalah bekal, karena dalam perjalanan belum tentu ada makanan yang cocog untuk sakit maag. Nasi lembek beserta lauknya yang lembut dan tawar serta bukan yang digoreng. Jangan lupa juga bawa air putih banyak-banyak.

Semoga ada manfaatnya.

Salam Sehat Selalu,
NiniekSS


Labels: Tips

Thanks for reading Petaka Bepergian Tak Membawa Bekal. Please share...!

2 comments on Petaka Bepergian Tak Membawa Bekal

  1. Iya bu nur sayang

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he terima kasih atas kunjungan setianya di blog mbak Candra.

      Salam,

      Hapus

Back To Top