SOLUSI SAKIT MAAG

Blog pengalaman sembuh sakit maag kronis | obat alami sakit maag | makanan sakit maag | cara sembuh sakit maag | pantangan sakit maag

http://solusi-sakit-maag.blogspot.com/2014/07/resensi-buku-rahasia-sembuh-sakit-maag.html

Lebaran Kenangan Kelabu bagi Sakit Maag Dan GERD

Bismillahirrahmanirrahiim…

Salam Sejahtera Bagi Seluruh Alam, Puji dan syukur hanya kepada Allah Pemilik Seluruh Nikmat. Shalawat dan salam yang setulus-tulusnya semoga senantiasa tercurah atas Nabi Agung Muhammad Rasulullah SAW, bagi keluarga dan sahabatnya yang mulia serta para pengikut Beliau yang setia sampai akhir jaman. Aamiin. 

Pembaca Blog Yang Setia, dimanapun kalian berada…

Selamat jumpa kembali Sobat, setelah beberapa pekan saya absen dari menulis karena fokus bebenah dan bebersih diri, pada kesempatan Ramadhan yang sungguh luar biasa !

Meskipun terlambat tak ada salahnya saya mengucapkan :”Taqabbalallaahu Minna Waminkum, semoga Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Tahu, berkenan menerima ibadah kita, Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir Batin”.

Setelah sebulan penuh kita kaum Muslimin dan Muslimat berjuang keras dengan penuh kegembiraan melaksanakan Puasa di Bulan Ramadhan, maka tibalah hari kemenangan yang kita tunggu-tunggu ialah Hari Lebaran, Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1436 H.

Hari sebagai perayaan bahwa kita kaum Muslim telah memenangkan perjuangan berpuasa, mengalahkan segala nafsu buruk yang ada didalam diri kita, pada bulan Ramadhan.

Nafsu serakah, nafsu angkara, nafsu sombong, nafsu bermegah-megahan, nafsu mementingkan diri sendiri, nafsu amarah, serta nafsu-nafsu maksiat yang lain yang berbau syaiton dan iblis.

Selama satu bulan penuh, di Bulan Ramadhan yang baru saja meninggalkan kita itulah, kita ditempa menjadi manusia yang fitri, yang suci, yang terbebas dari segala nafsu buruk, bagaikan bayi yang baru lahir, suci tanpa dosa, sehingga kita mampu menangkap ampunan, Rahmat dan Kasih Sayang Allah dengan lebih mudah, karena tabir dosa atau hijab yang menghalangi kita dengan Allah telah tercerahkan sebulan penuh.

Sesuai janji Allah, jika kita Umat Muslim mau menjalani puasa Ramadhan sebulan penuh dengan sebaik-baiknya, dengan sepenuh takzim dan hikmat, maka akan mendapatkan Ampunan, Rahmat, Dibebaskan dari Siksa Api Neraka bahkan mendapatkan barokah malam Lailatul Qodar, dimana jika seseorang beribadah pada malam Lailatul Qodar insya Allah akan mendapatkan pahala senilai dengan ibadahnya seseorang selama 1000 bulan. 

Bukankah ini suatu karunia yang luar biasa ? Tentu untuk mendapatkan karunia ini tak bisa instan. Kita biasakan agar kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan pada saat Ramadhan jangan berhenti pada bulan Ramadhan saja, namun jadikan kebiasaan keseharian kita. Terutama dalam menahan segala nafsu buruk, mendekatkan diri kepada Allah SWT. yang memberi hidup dan kehidupan kepada kita, dengan meningkatkan kualitas ibadah kita, meningkatkan kuantitas serta kualitas kita dalam membaca Al Qur’an, meningkatkan budaya sedekah kita, serta kebiasaan baik-kebiasaan baik yang lainnya.

Jika kebiasaan-kebiasaan baik ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari kita, maka jika Ramadhan yang akan datang tiba, maka insya Allah kita akan mampu menjalaninya dengan ringan, dan akan mendapatkan semua apa yang dijanjikan Allah dalam bulan Ramadhan. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.

Insya Allah kemenangan telah kita peroleh. Sedih sekali rasanya Ramadhan sudah usai, namun Allah berikan kegembiraan sebagai gantinya, setelah kita alhamdulillah dapat menjalaninya dengan semaksimal mungkin hingga akhir Ramadhan, ialah dengan Hari Raya Iedul Fitri.

Hari dimana semua Umat Muslim merayakan kemenangan. Hari yang merupakan Budaya Indonesia dimana semua insan Muslim saling bermaaf-maafan, lalu sanak keluarga berkumpul dirumah orang tua. Saling bermaaf-maafan melepas kerinduan dan semua ganjalan yang ada dalam dada. 

Yang berada jauh di kota pada berjuang untuk bisa pulang mudik dengan susah payah. Yang bermobil kena macet dijalan berjam-jam terpanggang sinar matahari, menahan lapar dan dahaga jika kehabisan bekal. Repot ! Susah ! Menghabiskan biaya yang tak sedikit ! Semua dilakukan semata karena ingin berkumpul dengan keluarga besar dirumah orang tua.

Segala kerepotan, kelelahan, biaya besar, tak terpikirkan sudah, ketika bisa sampai kerumah orang tua dengan selamat. Bermaaf-maafan, makan bersama, bercanda bersama, mengenang masa kecil bernostalgia bersama. Keindahan kebersamaan yang hanya bisa diperoleh setahun sekali pada saat lebaran seperti ini.

Lalu bagaimana dengan kita para penderita maag kronis dan gerd pada saat lebaran ? Selalu lain cerita, lebaran justru akan menjadi kenangan yang selalu kelabu ! jika kita belum sembuh.

Pada saat puasa, kita sedih sekali. Ingin sekali rasanya hati ini untuk bisa berpuasa. Dengan bekal tekad baja, meskipun diwarnai keragu-raguan, kita paksakan untuk bisa menjalani puasa. Eh belum sampai maghrib tumbang sudah puasa kita, karena merasakan perut sakit luar biasa. Apalagi hari-hari pertama. Super berat rasanya perjuangan kita untuk melaksanakan puasa.

Pada jam-jam antara jam 8 hingga jam 11.00 siang lambung rasanya tak karuan. Karena pada jam-jam ini masa kerja bagi lambung untuk menggiling, sehingga ketika perut kosong tentu akan terasa bergejolak, apalagi ketika lambung kita sedang bermasalah.

Nah akhirnya kita hanya kuat bertahan puasa pada hari-hari pertama saja, karena hari-hari selanjutnya perut kita justru terasa sangat sakit, perih sekali di bagian uluhati.

Lebih susah lagi, yang biasa membuat masakan untuk kita sedang berpuasa, jadi ketika kita sakit maag tapi tak bisa menjalani puasa, rasanya sangat kerepotan mendapatkan makanan yang pas buat lambung kita.

Lalu, ketika penghuni rumah semua sedang berbuka puasa, sedih juga kita, mereka makan dengan menu buka puasa yang biasanya dimana-mana lebih lezat dari biasanya. Bukan karena bermegah-megah, karena untuk menggantikan gizi yang tidak bisa kita konsumsi ketika kita sedang berpuasa. Nah luu ! Padahal kita yang sedang sakit maag ini, tak bisa makan semua menu yang terhidang diatas meja untuk berbuka puasa ?

Nasi hangat. Ada kalio ayam, sambal goreng kentang, ada pepes ikan bandeng, sambal, lalapan, kerupuk udang, mau makan yang mana ? Semuanya tak bisa !

Ada poeding buah atau kolak pisang dan kolang-kaling juga tak bisa makan ?

Lalu akhirnya apa ? Kita hanya makan nasi lembek, tahu putih yang dikukus dengan garam, teluar ayam kampung yang kita rebus mateng muda, dan labu siam muda yang kita kukus sebagai sayurannya, karena itu yang aman di lambung kita. Betapa sedihnya kita.

Apalagi jika kemudian anggota keluarga kita bisa sholat berjamaah di masjid, tarawih bersama di masjid, kita tak bisa sholat berjamaah seperti mereka.

Untuk berwudhlu dengan sempurna saja susah. Berdiri dengan baik juga tak bisa, sempoyongan, sehingga kita terpaksa sholat dengan duduk, sendiri, bahkan terkadang jika tak kuat sholat dengan duduk, ya kita lalu sholat dengan berbaring. Habis bagaimana lagi, karena kondisi badan kita tak memungkinkan untuk menjalani sholat dengan sempurna Ya Allah..

Sedih sekali rasanya. Lebih-lebih jika saat lebaran tiba. Berbagai jenis kueh, makanan dan masakan terhampar diatas meja, namun tak ada satupun yang cocok di lambung kita.

Apalagi ketika mereka pada berkumpul, ngobrol bersama, bercanda hingga terkadang ramai sekali mereka tertawa terbahak-bahak karena ada kenangan masa kecil yang mungkin menggelikan. Sementara kita hanya bisa tergolek diatas ranjang didalam kamar, menebak-nebak apa ya yang sedang mereka perbincangkan itu sehingga mereka pada tertawa terpingkal-pingkal ? Karena kita tak bisa menyatu dengan mereka, sebab untuk duduk terlalu lama saja lambung seperti ada batunya, mengeras di uluhati kita.

Jarang, saudara-saudara kita jika sedang berkumpul, bercanda, tertawa bersama, ingat untuk menemani kita yang sakit tergolek diatas ranjang. Paling-paling mereka menengok sebentar mendekati kita lalu mengatakan :”Sabar ya ? Untuk istirahat saja”, lalu kembali ketempat berkumpul keluarga. Meranalah kita seorang diri, walau dalam keramaian keluarga. 

Paling-paling ibu kita yang mendekat menghibur kita, itupun jika beliau masih hidup. Ibu yang hidup ikut pada saudara kita yang kondisi ekonominya lebih mampu, dan pulang ke kampung karena ingin nyekar ke makam para leluhur. Momentum seperti ini mampu menorehkan sejuta kebahagiaan dalam hati kita, masih ada ibu, yang kasih sayangnya tak kan terputus sepanjang jalan dan ketulusannya tak pernah pupus sampai kapanpun.

Lalu kesedihan yang kita rasakan, akan terasa sekali pada saat sholat Ied, Ya Allah sedihnya…orang serumah pada berbondong-bondong pergi ke masjid untuk menunaikan sholat Iedul Fitri bersama, kita menjadi penunggu rumah, karena untuk tegak berdiri saja tak mampu.

Itulah gambaran kita semua yang sedang sakit maag kronis dan juga GERD, jika lebaran tiba. Ada senangnya karena bisa berkumpul lagi dengan saudara-saudara kita yang pada merantau jauh ke luar kota, namun sedihnya kita tak bisa bercanda bersama, sholat Ied bersama dan makan besar bersama.

Kita benar-benar seperti terisolir, terasing dari lebaran. Namun ada juga diantara kita yang sudah setengah sembuh, Alhamdulillah bisa menjalani puasa paruh waktu tidak sebulan penuh, lalu ikut mencicipi sedikit-sedikit makanan berbuka puasa dan sahur, juga nekad memakan sedikit-sedikit kue-kue serta masakan lebaran yang serba daging dan ikan, pedas dan santan, waduuuuuh…

Selesai sholat Ied terkapar lagi deh ! Maag dan GERD kita kambuh, bahkan ada yang harus dirawat di Rumah Sakit. Diarelah, sakit perut lagilah, pinggang dan punggung pegallah, kepala kliyenganlah, akumulasi dari makan melanggar pantangan yang sedikit-sedikit mulai berefek !
Itulah fenomena lebaran bagi kita yang menderita sakit maag, menjadi kenangan yang kelabu. Kambuh dan kambuh !

Makanan lebaran selalu extra wah ! Baik bahannya maupun bumbu-bumbunya. Bumbu yang jika hari-har biasa tak pernah diberi bumbu penyedap, maka pada hari lebaran supaya membuat lidah bergoyang maka ketika kita masak, kita gunakan bumbu penyedap, entah itu sasa, miwon, masako, royco atau bumbu-bumbu lain, yang sering membuat badan tidak sehat karena kandungan kimianya.

He he setahun sekali ini, gak apa-apa pake penyedap. Hari-hari yang biasa masak hanya dengan sedikit santan, karena lebaran biar enak maka santannya masya Allah, super kental hingga keluar minyaknya. Lalu mensangrainyapun dengan minyak yang berlebihan dengan harapan agar masakan benar-benar berkesan bagi keluarga besar yang sedang kumpul.

Ohoi…Lalu apa akibatnya ? Sesudah lebaran ? Setelah berkeliling kesana kemari bersilaturahmi dengan sanak saudara, handai taulan, yang dimana-mana harus makan, harus mencicipi kue, kue-kue dan semua makanannya yang lezat-lezat, yang riskan bagi lambung yang sedang bermasalah ?

Tentu ! Sesudah lebaran, mulailah berefek segala apa yang kita makan. Seperti sahabat kita Bang Dodi dari Padang. Beliau sudah beberapa tahun menderita maag kronis tak sembuh-sembuh. Lalu mulai terapi dengan Juice Morinda yang Original. Alhamdulillah selepas 2 botol maagnya sudah mulai membaik, tidurnya yang semula sangat sulit setelah minum morinda menjadi enak dan gampang, kembungnya jauh berkurang, yang tadianya setiap 1 jam lapar sekarang sudah bisa bertahan 3 jam setelah makan baru terasa lapar lagi.

Suatu saat Bang Dodi membaca artikel bu niniek tentang “Kerupuk buat Sakit Maag”, yang dalam artikel itu dijelaskan bahwa kerupuk rambak atau kerupuk kulit itu sangat riskan bagi lambung yang sedang sakit.

Eh, lebaran kemarin ini, rupanya ada saudaranya yang membawakan oleh-oleh kerupuk rambak. Bang Dodi ini penasaran. Apa benar sih apa yang ditulis Bu niniek dalam artikelnya, bahwa kerupuk rambak sangat riskan jika dimakan orang sakit maag ? Bisa menyebabkan perut sakit, lambung luka lagi, bahkan ada yang sampai berguling-guling akibatnya ? Dengan sangat penasaran, maka diambilnyalah bungkus kecil kerupuk rambak yang menggoda selera itu. 

Dan pelahan satu demi satu dimakannya kerupuk rampak itu. “Ah enak…perutku tak ada masalah kok” bisiknya dalam hati. Karena merasa perutnya aman-aman saja, Bang Dodi ambil lagi sebungkus yang lain ketika bungkus yang pertama sudah dihabiskannya. Lalu masih kurang, maka diambilnya bungkus kulit rambak yang ketiga. Dengan santainya dihabiskannya, karena merasa semuanya aman-aman saja.

Nah ini dia…Setelah beberapa jam dari makan kerupuk rambak ini, mulailah terasa efeknya. Yang semula sudah baik-baik saja lambungnya, maka tiba-tiba saja Bang Dodi merasakan perutnya sangat mual berkepanjangan, seluruh badan terasa sakit semua. Pinggang, punggung, kaki, tangan pegal semua. Badan juga tak enak sekali seperti meriyang, tidurnya juga jadi terganggu karena merasakan berbagai keluhan. Sayang kan ? Ibarat karena nila setitik rusak susu sebelanga ?

Kemarin Bang Dodi laporan ke saya : “Bund, saya kok mual-mual lagi sepanjang hari, seluruh badan jadi tak enak lagi, hari ini saya tak masuk kantor, takut gak kuat. Kenapa ya Bund ? apa karena kemarin saya makan kerupuk rambak Bund ?”. Nah luu ! “Habis seberapa banyak Bang ? Tanya saya. “Habis 3 bungkus kecil Bund”. Nah Luu ! Apalagi sampai habis tiga bungkus, habis satu dua biji juga akan menyebabkan lambung kambuh ! Kata saya kepada Bang Dodi.

Oleh karena itu. Percaya saja dengan semua apa yang saya tulis dalam artikel-artikel saya. Karena semuanya saya tulis berdasarkan pengalaman saya sendiri. Bukan hasil copy paste dari blog lain di internet, atau katanya-katanya. Saya tak berani mempertaruhkan kesehatan kalian dengan resep hasil copy paste atau katanya-katanya.

Saya merasa sangat berdosa jika dengan resep yang saya berikan di blog ini kalian malah jadi tambah parah sakitnya. Kecuali saya akan dihantui rasa bersalah seumur hidup, maka saya sangat sulit menghilangkan rasa berdosa saya kepada Allah atas kejadian menulis artikel jiplakan. No. Sorry ya teman ! Itu bukan kepribadian saya.

Biarlah blog ini banyak dicopy paste oleh orang lain dan dipajang dalam blog-blog mereka dengan mengatasnamakan itu adalah tulisan mereka, tak apa kalau mereka mau bertindak menjadi orang yang tak jujur, karena mohon maaf itu menunjukkan kelas tulisan mereka dan kepribadian mereka, yang suka main jiplak !

Kita jangan seperti itu ya ? Membanggakan hasil karya orang lain sebagai hasil karya kita, itu sangat memalukan dan justru merendahkan martabat kita sendiri.

Saya sangat salut kepada Bang Hendri, seorang petugas kepolisian yang dulu tinggal di Simpurut Sumatera. Karena isterinya sakit maag kronis dan GERD tak sembuh-sembuh, maka beliau rajin sekali mengikuti tulisan-tulisan saya dalam blog ini. Bahkan jika ada yang dirasa penting untuk isterinya, maka segera diprintlah artikel tersebut, agar bisa dibawa pulang dan memudahkan isterinya untuk membacanya. Bahkan teman-teman sekantornyapun banyak yang dibagi hasil print2an artikel dari blog ini, semata agar kawan-kawannya bisa menjaga kesehatan lambung mereka.

Banyak kok pak Polisi dan Pak Tentara yang ternyata juga kena sakit maag. Mungkin pada masa pendidikan atau masa penugasan ke medan yang sulit mereka sering mengkonsumsi makanan-makanan instan yang tak sehat buat lambung !

He he maafkan saya, kalau menulis suka melantur kemana-mana, cerita soal lebaran kok mampir ke Pak Polisi yang terkena sakit maag. Saya sering tak mengindahkan anjuran Google, agar blog banyak dikunjungi orang, maka jika menulis, isi jangan jauh dari judulnya. Bagi saya yang penting, dengan apapun yang saya tulis, tujuannya adalah semata agar KALIAN BISA CEPAT SEMBUH ! OKE ?

Sampai disini dulu ya kawan, ingat, percaya saja dengan apa yang saya tulis, karena saya ahlinya menderita maag, bukan ahlinya lambung, jadi telah banyak pengalaman seputar sakit maag dan GERD yang saya alami, hingga yang sedetail-detailnya. Yups semoga bermanfaat ! Selamat menjalani ibadah Saum Syawal, semoga sukses ! 

Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Salam Penulis,
Niniek SS
Labels: EDISI SPESIAL, Motivasi

Thanks for reading Lebaran Kenangan Kelabu bagi Sakit Maag Dan GERD. Please share...!

0 Komentar untuk "Lebaran Kenangan Kelabu bagi Sakit Maag Dan GERD"

Back To Top